23.6.10

Narasi MASMPEP tentang Semarang dan kota lama

Seharusnya Semarang dapat menjadi kota wisata yang mbetahi lan ngangeni. Namun hiruk pikuk kota ini telah membuatnya menjadi kota yang bergegas. Tak ada ruang untuk berleha-leha, apalagi ramah pada model backpacker infantri seperti saya. Sayang memang, namun saya tetap berusaha menikmati yang baik-baik dari Semarang.
Saya memang belum pernah tinggal di Semarang—setidaknya menurut kategori administrasi kependudukan: berturut-turut selama enam bulan. Saya hanya beberapa kali singgah di kota ini. Menginap satu atau dua malam karena ada agenda tertentu. Praktis saya hanya berkesempatan mengelilingi kota dalam jangkauan angkutan umum dan bilangan jam saja.
Tidak ada Semarang tanpa Kota Lama. Saya tidak tahu pasti apakah Semarang periode kolonial bermula dari kawasan ini—seperti halnya Kota Lama Jakarta di Sunda Kelapa. Namun tesis saya boleh jadi benar, karena Kota Lama Semarang berada dalam yurisdiksi Pelabuhan Tanjung Emas. Sebagai kawasan perdagangan dahulu Kota Lama dilindungi oleh benteng yang dikenal sebaga Bentek Vijhoek dengan poros Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) dengan kubahnya yang khas dan kantor-kantor pemerintahan. Penguasa kolonial kala itu terhitung sebagai pemeluk Protestan yang taat. Tak heran bila mereka menjadikan gereja sebagai makrokosmos kehidupannya.Kota Lama juga disebut Outstadt atau Little Netherland, satu ungkapan yang menggambarkan suasana tropis namun direkonstruksi layaknya negeri kincir angin di Nederland sana, berbeda tipis dengan Kota Lama Jakarta yang disebut Little Amsterdam.
Satu sore yang manis saya pernah berkeliling dengan becak bersama istri (baru) saya di kawasan ini. Kami menyusuri jalan yang tersusun rapi dari paving block. Melintasi Stasiun Tawang, kemudian tak jauh dari situ memutari Polder Tawang. Satu kolam besar yang diangankan mampu menampung limpasan rob dari kawasan seputar stasiun. Polder Tawang berisi air penuh. Keperakan ditimpa matari senja. Pak becak masih mengayuh pedalnya saat saya menikmati barisan gedung-gedung tua, sebagian bercat putih meski di sana sini dihiasi lumut.

Saya tak dapat mengingat satu persatu gedung-gedung bergaya kolonial—yang katanya art deco atau barok (baroque atau barroco dalam lafal Portugis), entah art nouveau. Namun saya dapat menduga bila gedung-gedung yang diyakini ultramodern pada dasawarsa 1920an—sehingga disebut art deco—atau bercorak arsitektural yang detail—sehingga disebut barok—itu adalah bangunan bermacam-macam maskapai dagang. Kalau ada arsitek yang paling bertanggungjawab atas wajah Kota Lama hari ini bolehlah kita menyebut Thomas Karsten. Meneer satu inilah yang antara lain mendesain Pasar Johar, serta bekas Gedung Stoomvart Maatscharpij Nederland yang kini digunakan P.T. Djakarta Llyod yang bergerak di bidang jasa pengangkutan laut.

Becak berbelok. Menyusuri Jalan Letnan Jenderal Suprapto. Kami rehat sejenak di taman kota kecil, persis di depan Gereja Blenduk. Memandangi burung-burung yang berterbangan, sebelum kemudian memesan Sate Kambing 29 di samping gereja. Sate Kambing 29 yang banyak diliput dalam artikel dan acara wisata kuliner di media ini menyediakan rupa-rupa sate: sate buntel, sate kambing, dan gulai sumsum (kambing) dengan harga yang mahal menurut saya—maklum, backpacker infantri-kapiran. Namun saya berhasil meyakinkan istri (baru) saya bahwa Sate Kambing 29 ini legendaris, dimuat berkali-kali di Kompas, Pak Bondan Winarno tak ragu mengucapkan mak nyus dalam acaranya Wisata Kuliner, dan resto ini bernilai sejarah, budaya, bla-bla saya mengoceh hingga pesanan datang dan istri saya termakan oleh hasutan saya dan lapar yang menohok lambungnya.

Selepas Jalan Suprapto becak kami melintasi Jembatan Berok (dari kata brug yang berarti jembatan (Bld)), melintasi satu kawasan plasa yang lebar hingga ke Pasar Johar. Tak banyak yang menarik dari pasar ini kecuali polemiknya di media massa. Kekayaan arsitekturalnya diinterupsi pedagang yang menggelar dagangan secara seronok. Walhasil tak ada makna apa-apa lagi dari pasar ini kecuali dulu, dulu, bahwa pasar ini adalah salah satu pasar modern pertama di Semarang. Satu pasar yang didesain oleh Thomas Karsten. Satu pasar yang sezaman dengan Pasar Gedhe Harjonagoro di Solo, namun bedanya yang satu masih gagah berdiri yang satu mulai kisut di gilas zaman. Ah, tak baik menyesali sejarah bukan.

Di Pasar Johar kami kembali rehat, sembari membeli wingko babad. Sebenarnya kami ingin melanjutkan berburu bandeng presto di Jalan Pandanaran yang resmi menjadi pusat perkulakan olahan bandeng sejak tahun 2001 atau meluncur ke Jalan Mataram untuk mencicipi loenpia (lumpia menurut lidah Semarang yang keblanda-blandaan kecina-cinaan (semula saya mengira loenpia berasal dari tradisi kuliner kolonial semacam rijstaffel, ternyata loenpia berakar dari khazanah kuliner China, setelah saya menonton Kamus Kuliner yang dipandu Prof (ris). Hermawan Sulistyo, idola saya dalam kajian mengenai Gerakan Mahasiswan yang kini nyambi jadi prsenter acara kuliner–mpep)) yang mengaku ‘asli dekat (Toko) Roti Sanitas’ semua. Mengingatkan saya dengan sentra Getuk Goreng Sokaraja Purwokerto yang mengaku titisan trah Haji Sanpirngad melalui garis Haji Tohirin sejak 1922 1918. Atau pusat kuliner sate kambing di bilangan Tirus Tegal yang mengaku cabang dari Haji Sakya.

Namun rencana itu tidak taktis. Pusat wisata Semarang tersebar, dengan satu jarak yang tak mungkin ditempuh secara infantri. Bahkan Kota Lama yang eksotik tak nyaman dinikmati dengan berjalan kaki—seperti di Malioboro Jogja atau paling kurang Jalan Slamet Riyadi Solo. Pedestrian cukup lebar, namun tak ada sebijipun pohon ditanam di kiri-kanan jalan. Maklumlah, gedung-gedung maskapai tua itu bahkan tak memiliki halaman, tembok depan gedung sekaligus menjadi pagar pembatas dengan jalan raya.



Saya berinisiatif menumpang bus kota menuju Kawasan Simpang Lima. Istirahat di Masjid Baiturrahman Simpang Lima sambil menikmati renik-renik peradaban modern di sela-sela pusat perbelanjaan yang mengepung Simpang Lima. Simpang Lima menjadi kawasan yang kompak menurut perspektif ekonomi, namun tak taktis menurut kacamata wisatawan. Ingin ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang belakangan mulai sohor karena payung elektriknya seperti pada masjid-masjid di tanah suci, harus berkali-kali ganti bus kota dan angkot. Ingin ke Jalan Pandanaran harus mbecak. Ingin ke Jalan Mataram, lebih repot lagi. Mau ke Kota Lama juga harus berkendaraan. Apalagi bila ingin menjajal Lawang Sewu.



Bila tak ingin kemana-mana, menepi saja di trotoar. Mencicipi Tahu Gimbal. Tahu ini eksotik. Satu porsi sepiring penuh hingga nyaris tumpah. Yang menggugah rasa apalagi kalau bakwan udang yang dipajang secara demonstratif tersusun rapi di gerobak. Bersama segelas es teh, dan berjilid-jilid lagu namun sepenggal-sepenggal bait dari pengamen. Bagi anda yang merindukan ‘suasana hangat kaki lima’, di kaki lima Simpang Lima salah satu tempat yang layak menjadi referensi anda.



Tak ke Semarang kalau tak mampir ke Lawang Sewu. Ya. Ya. Gedung milik Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Posisinya persis di seberang bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein. Di Bundaran ini pula Pertempuran Lima Hari di Semarang meletus, sejak 14 Oktober-19 Oktober 1945. Lawang Sewu disebut demikian karena dianggap berpintu seribu. Meskipun jumlah pintunya tak sebanyak itu, dan yang dikira pintu oleh banyak orang sebenarnya adalah jendela yang tinggi dan lebar. Lawang Sewu memiliki dua menara kembar di muka yang secara arsitektural menarik, serta secara praktis dimanfaatkan sebagai tangki air.



Saya belum pernah menjejak kaki di Lawang Sewu. Saya justru berminat menikmati Museum Mandala Bhakti yang memajang meriam arteleri di sisi Tugu Muda yang lain. Atau menikmati arsitektur Gereja Katedral Randusari di sisinya yang lain lagi. Atau Wisma Perdamaian yang menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Tengah. Sayang, semuanya hanya dapat dinikmati sekilas saat melintasi lampu merah Tugu Muda. Museum lebih banyak tutup, atau mengesankan tutup dan sepi. Wisma Perdamaian? Ah, tampaknya tak dibuka untuk umum, kecuali saya menjadi tamu gubernur. Lawang Sewu? Mau melihat apa, karena tampaknya di dalam gedung sebesar itu tak ada isinya. Gereja Katedral Randusari? Saya tak ingin menjadikan tempat ibadah sebagai ‘obyek wisata’ dengan berpotret-potret dan senda gurau. Jadi, cukup mengintip selintasan kejap dari jendela bus kota—meskipun pengin juga seperti Arbain Rambey mengabadikan kawasan Tugu Muda melalui lensa kameranya dari jendela pesawat.

 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar: