15.9.10

Denting Piano di Stasiun Tawang

Penumpang Kereta api yang singgah di statsiun tawang- Semarang pasti tidak asing dengan Denting piano, yang memainkan ”Empat Penari” itu, di telinga awam sebenarnya terdengar kaku, dengan tempo lambat. Namun mungkin karena diperdengarkan berulang kali, akhirnya menimbulkan kesan yang mendalam.

Sedalam itu pula kesan yang dapat ditimbulkan bila Anda nongkrong di tepi Polder Tawang memandang ke utara ke bangunan Stasiun Tawang. Terlebih, stasiun ini tampil anggun dengan atap kubah tinggi sebagai titik pandang (point of view). 


Jangan hanya memandangi kubah dari luar. Dari dalam bangunan stasiun, saat menengadah, Anda bakal melihat langit- langit persegi dengan pencahayaan sangat memukau. Sementara ornamen paling menonjol di stasiun ini adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung dan dipertegas oleh bingkai pasangan batu bata di tepi atasnya.

Diarsiteki oleh Sloth Blauwboer dan dibangun atas pesanan perusahaan kereta Netherland Indische Spoorweg (NIS), Tawang memang dibangun dengan sangat serius berlanggamkan Romantisisme—yang waktu itu sedang ngetop di Eropa.

Mengapa romantisisme? Sebab, pada tahun-tahun itu, tepatnya Juni 1914, Tawang dipersiapkan sebagai monumen untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).

Merayakan kemerdekaan di tanah jajahan dengan mendirikan stasiun megah. Itulah ironi Hindia Belanda. Meski begitu, kita patut bersyukur saat ini karena stasiun ini menjadi tempat berkumandangnya ”Empat Penari” puluhan kali dalam sehari. Toh, Republik ini bahkan tak mampu untuk membangun stasiun baru di tempat lain semonumental Tawang.

Bila Anda tidak terburu-buru mengejar kereta api, disarankan untuk berkeliling dahulu menikmati bangunan peninggalan zaman kolonial di Kota Semarang. Ada Gereja Blenduk yang didirikan tahun 1753, Gedung Marba (dulunya bernama Gedung De Heeren Straat), dan Gedung Jiwasraya, yang dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek Stasiun Solo Balapan.

Jika tidak ingin pergi terlalu jauh dari stasiun, ya itu tadi, Anda dapat menikmati indahnya bangunan kuno di pinggir Polder Tawang.

Bila senja dan malam tiba, bangunan-bangunan tua itu berefleksi dengan indahnya di muka air polder, yang berfungsi mengendalikan banjir Semarang.

Dan ketika ”Empat Penari” mulai mengalun, bergegaslah masuk ke stasiun. Mungkin giliran kereta Anda yang siap berangkat.( HERPIN DEWANTO-travelkompas.com)

16.7.10

OUD BATAVIA ; By David Achmad





David achmad, pemilik blog www.ligadewi.multiply.com, www.fotodaridavid.blogspot.com  punya sentuhan di setiap fotonya .

Lawang Sewu Disiapkan Jadi Galeri Industri Kreatif

Rabu, 07 Juli 2010, 20:49 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG--PT Kereta Api (KA) selaku pemilik bangunan Lawang Sewu saat ini sedang merenovasi bangunan bersejarah ini untuk disiapkan menjadi galeri industri kreatif di Kota Semarang. Kepala Humas PT KAI daerah operasi (DAOP) IV Semarang, Sapto Hartoyo, Rabu, mengatakan, renovasi yang dilakukan pada bangunan Gedung A dan C diperkirakan memakan waktu sembilan bulan sejak awal pelaksanaan renovasi pada 1 Juni 2010.

Ia menambahkan, renovasi dikoordinasi langsung oleh Pusat Pelestarian Benda Bersejarah (PPBB) yang berada di bawah kendali "Executive Vice President" PT KA dengan anggaran sebesar Rp3,9 miliar. "Melestarikan Lawang Sewu dimaknai sebagai cara melindungi cagar budaya ini tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah dan budaya di dalamnya," ujar Sapto.

Salah seorang staf PPBB PT KA yang mengelola Lawang Sewu, Ratri Septina Saraswati, mengatakan renovasi Lawang Sewu dilakukan dalam tiga tahap dan diawali dengan lelang jasa kontraktor. Tahap pertama adalah renovasi gedung, tahap kedua adalah menyusun lanskap, dan penyelesaian terakhir pada segi teknis listrik dan mekanik.

Namun, menurut Ratri, waktu sembilan bulan yang ditargetkan PT KA hanya dapat digunakan untuk penyelesaian tahap pertama. "Tahap ini mencakup pengerjaan dinding, lantai, anak tangga, plafon, pintu, dan jendela hingga pengecatan gedung," katanya.

Ia menambahkan, pengerjaan dinding menjadi konsentrasi utama karena dinding gedung sudah mulai keropos termakan usia. Material bangunan yang digunakan untuk merenovasi Lawang Sewu pun secara khusus dibuat sama dengan material aslinya dahulu, yakni berupa campuran bata merah, pasir, dan kapur. Hal ini bertujuan agar gedung tersebut semakin kokoh seperti pertama kali dibangun pada 1904.

Sapto menambahkan, secara jangka panjang Lawang Sewu akan dijadikan sebagai pusat eksibisi industri kreatif di Semarang. Pihaknya pun telah melakukan kerja sama dengan Departemen Perdagangan untuk pengelolaannya. "Pengembangan industri kreatif perlu tempat yang memadai. Hal ini pun menjadi berkesinambungan dengan rencana renovasi cagar budaya seperti Lawang Sewu." ujarnya.

Upaya untuk melenyapkan kesan magis dan angker di dalam bangunan Lawang Sewu selama ini sudah dilakukan, misalnya dengan menggelar berbagai kegiatan bisnis dan budaya di bangunan ini. Di zaman Orde Baru, Lawang Sewu pernah akan disulap menjadi hotel berbintang, namun mendapat protes luas kalangan masyarakat, sejarawan, dan budayawan.
============================
seperti yang pernah diulas di Blog lain beberapa waktu lalu tentang rencana Renovasi Lawang Sewu - 
Upaya rehabilitasi bangunan yang berdasarkan konservasi bangunan kuno hendaknya selalu memperhatikan detil bangunan, dalam hal ini informasi yang kami dapatkan bahwa kontraktor pemugaran Lawang sewu memakai tenaga ahli konservasi bangunan dari Belanda.
mari kita tunggu hasilnya seperti apakah....


Bangunan kuna di Eropah yang masih dipertahankan keutuhannya